Menjaga Kehormatan Diri dan Teman
| Terbit | : | 24-08-2026 |
| Penulis | : | Admin |
Artikel
Menjaga Diri, Menghormati Teman
Usia SMP adalah masa ketika banyak hal mulai berubah. Tubuh berkembang, suara berubah, mulai tumbuh rambut di beberapa bagian tubuh, muncul jerawat, bentuk tubuh berubah, dan sebagian anak mulai mengalami menstruasi atau mimpi basah. Perasaan pun kadang menjadi lebih kuat dan mudah berubah.
Pada masa seperti ini, rasa penasaran terhadap tubuh sendiri maupun tubuh orang lain juga bisa muncul. Itu wajar. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi rasa penasaran tersebut.
Islam mengajarkan bahwa tubuh adalah amanah dari Allah. Karena itu, tubuh kita harus dijaga dan kehormatan orang lain juga harus dihormati.
Allah berfirman:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
QS. An-Nur: 30
Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga pandangan sekaligus menjaga kehormatan diri.
Ketika muncul pertanyaan tentang perubahan tubuh, carilah jawaban melalui cara yang benar. Bertanyalah kepada orang tua, guru, ustaz atau ustazah, dokter, atau orang dewasa yang dapat dipercaya. Jangan mencari tahu dengan mengintip, memaksa, atau menyentuh tubuh orang lain.
Rasa penasaran itu wajar, tetapi rasa penasaran bukan izin untuk menyentuh tubuh teman.
Tubuh Setiap Orang Memiliki Batas
Setiap orang memiliki batas pribadi. Ada bagian tubuh yang harus dijaga dan tidak boleh dilihat atau disentuh sembarangan oleh orang lain, terlebih bagian pribadi atau organ reproduksi.
Karena itu, memegang bagian pribadi teman, meraba tubuhnya, membuka atau menarik pakaiannya, atau melakukan sentuhan yang bersifat seksual dengan alasan bercanda bukanlah perilaku yang dibenarkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
HR. An-Nasa’i; maknanya juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim
Perhatikan bagian penting dari hadis tersebut: “selamat dari tangan.”
Tangan seorang Muslim seharusnya membuat orang lain merasa aman, bukan takut, malu, atau terluka.
Sebelum menyentuh teman, biasakan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah dia nyaman?
Apakah dia mengizinkan?
Apakah tindakan ini pantas dilakukan?
Jika jawabannya tidak, jangan lakukan.
“Cuma Bercanda” Bukan Alasan
Dalam pertemanan, terkadang sesuatu yang sebenarnya sudah melewati batas dianggap sebagai candaan.
“Kan cuma bercanda.”
“Cuma prank.”
“Kan teman sendiri.”
“Dia juga ketawa.”
Padahal, sesuatu yang membuat pelaku tertawa belum tentu membuat orang yang menjadi sasaran merasa senang.
Bayangkan seorang siswa dipermalukan di depan teman-temannya. Semua orang tertawa, sementara pelaku berkata, “Cuma bercanda.”
Bisa jadi yang dirasakan oleh siswa tersebut justru berbeda.
Ia mungkin merasa malu.
Ia mungkin terkejut atau takut.
Ia mungkin marah.
Ia mungkin khawatir kejadian yang sama akan terulang.
Bahkan, pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang kehilangan rasa aman di lingkungan sekolah.
Karena itu, ukuran candaan bukan hanya apakah pelakunya merasa lucu. Kita juga perlu melihat apakah orang yang menjadi sasaran tetap merasa aman, nyaman, dan dihormati.
Kalau sebuah candaan mengharuskan kita mempermalukan orang lain, menyentuh bagian pribadi, membuka pakaian, atau membuat seseorang merasa takut, itu bukan candaan yang sehat.
Ada Konsekuensi dari Setiap Tindakan
Menyentuh bagian pribadi teman tanpa persetujuan juga bukan persoalan sepele.
Dalam hukum Indonesia, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual mengatur mengenai pelecehan seksual fisik. Pasal 6 mengatur perbuatan seksual secara fisik yang ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud tertentu yang merendahkan harkat dan martabat seseorang.
Karena itu, tindakan yang merendahkan atau menyentuh bagian pribadi orang lain tidak seharusnya dianggap sekadar kenakalan atau keisengan.
Jika pelakunya masih anak, penanganannya tentu memiliki ketentuan tersendiri berdasarkan usia dan sistem peradilan anak. Namun, menjadi anak bukan berarti seseorang bebas melakukan tindakan yang merugikan orang lain tanpa konsekuensi.
Sekolah dan orang tua dapat mengambil langkah pembinaan dan perlindungan. Dalam kondisi tertentu, suatu peristiwa juga dapat ditangani melalui proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Jadi, jangan berpikir:
“Saya masih SMP, berarti tidak akan terjadi apa-apa.”
Setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Akhlak Seorang Muslim
Islam tidak hanya mengajarkan salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berbagai ibadah. Islam juga mengajarkan akhlak.
Seorang Muslim seharusnya berusaha membuat orang lain merasa aman, bukan takut atau terhina.
Karena itu, jangan menyentuh tubuh orang lain sembarangan. Jangan mempermalukan teman. Jangan membuka aurat teman. Jangan menjadikan tubuh teman sebagai bahan candaan. Jangan memaksa teman.
Dan ketika melihat teman melakukan sesuatu yang sudah melewati batas, kita tidak harus ikut tertawa.
Kita bisa berkata:
“Jangan begitu. Itu sudah kelewatan.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi bentuk keberanian untuk melakukan hal yang benar.
Jika ada teman yang menjadi korban, jangan ikut menertawakan dan jangan menyalahkannya. Kita bisa berkata:
“Kamu tidak salah. Ayo kita cari bantuan kepada guru yang bisa membantu.”
Menjaga teman adalah bagian dari akhlak.
Jangan Meremehkan Perasaan Korban
Dampak dari pelecehan tidak selalu terlihat secara fisik.
Luka pada tubuh mungkin bisa dilihat. Namun, rasa malu, takut, cemas, atau kehilangan rasa aman sering kali tidak terlihat.
Seseorang yang mengalami pelecehan dapat merasa takut, malu, bersalah, menarik diri dari lingkungan, sulit mempercayai orang lain, atau mengalami berbagai dampak psikologis.
Karena itu, jangan mengatakan:
“Ah, cuma disentuh sebentar.”
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan seseorang setelah mengalami kejadian tersebut.
Mungkin ia terus memikirkannya ketika sampai di rumah.
Mungkin ia merasa malu bertemu teman-temannya.
Mungkin ia takut kejadian itu terulang.
Bahkan mungkin ia mulai merasa tidak nyaman untuk datang ke sekolah.
Coba bayangkan jika kita sendiri berada di posisi itu.
Seorang teman melakukan sesuatu yang mempermalukan kita di depan banyak orang. Semua orang tertawa. Kemudian pelaku berkata, “Cuma bercanda.”
Mungkin dalam hati kita bertanya:
“Kenapa dia melakukan itu kepadaku?”
“Apakah besok akan terjadi lagi?”
“Aku tidak ingin diperlakukan seperti ini.”
Itulah sebabnya kita tidak cukup hanya melihat niat pelaku. Kita juga harus memikirkan dampak tindakan kita kepada orang lain.
Kalau Teman Bilang “Berhenti”, Berhentilah
Ada satu aturan sederhana yang perlu kita pegang dalam pertemanan:
Kalau teman mengatakan “berhenti”, maka berhenti.
Ketika teman berkata:
“Jangan.”
“Berhenti.”
“Aku tidak suka.”
“Jangan sentuh aku.”
Kita tidak perlu berdebat.
Jangan menjawab:
“Kamu baper.”
“Santai saja.”
“Kan cuma bercanda.”
“Kan kita teman.”
Justru orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
HR. Bukhari dan Muslim
Prinsip ini dapat kita terapkan dalam pertemanan. Kekuatan bukan berarti bebas melakukan apa saja kepada orang lain.
Kekuatan adalah kemampuan mengendalikan tangan, ucapan, emosi, rasa penasaran, dan dorongan diri.
Jika Kamu Mengalami Hal yang Tidak Nyaman
Bagaimana jika justru kita yang menjadi korban?
Jika seseorang menyentuh bagian pribadi kita, mempermalukan kita secara seksual, atau memaksa kita melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan, jangan menyalahkan diri sendiri.
Kita berhak merasa tidak nyaman.
Kita berhak berkata:
“Jangan sentuh saya.”
“Saya tidak suka.”
“Berhenti.”
Jika memungkinkan, segera menjauh dan cari tempat yang aman. Setelah itu, ceritakan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya, misalnya orang tua, wali kelas, guru BK, guru yang dipercaya, kepala sekolah, atau pihak lain yang bertanggung jawab.
Jangan takut dianggap sebagai “tukang mengadu”.
Melaporkan sesuatu yang membahayakan bukan berarti ingin menjatuhkan orang lain. Melaporkan berarti berusaha mendapatkan perlindungan dan mencegah kejadian tersebut terulang.
Jika ada teman yang bercerita bahwa dirinya mengalami pelecehan, dengarkan dengan baik. Jangan menyalahkan korban.
Hindari pertanyaan seperti:
“Kenapa kamu diam?”
“Kenapa kamu tidak melawan?”
Lebih baik katakan:
“Terima kasih sudah mau bercerita. Kamu tidak sendiri. Mari kita cari bantuan dari orang dewasa yang bisa membantu.”
Kalau Kita Pernah Melakukan Kesalahan
Bagaimana jika kita sendiri pernah melakukan tindakan yang salah?
Jangan berpikir bahwa satu kesalahan membuat kita menjadi anak buruk selamanya.
Islam mengajarkan taubat dan perbaikan diri.
Namun, taubat bukan sekadar mengatakan “maaf” kemudian mengulangi perbuatan yang sama. Taubat perlu diikuti perubahan.
Kita perlu mengakui bahwa perbuatan tersebut salah, menghentikannya, menyesalinya, berusaha tidak mengulanginya, dan bersedia bertanggung jawab apabila perbuatan tersebut telah merugikan orang lain.
Jika kita menyakiti teman, jangan meminta maaf hanya karena takut dihukum. Pahami mengapa perbuatan tersebut salah dan pikirkan bagaimana kita dapat memperbaiki diri.
Menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Menjadi dewasa berarti berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Mari Bangun Pertemanan yang Aman
Mulai sekarang, mari kita ubah cara kita memandang pertemanan di sekolah.
Bukan:
“Siapa yang paling berani mempermalukan temannya?”
Tetapi:
“Siapa yang paling bisa menjaga temannya?”
Bukan:
“Siapa yang prank-nya paling ekstrem?”
Tetapi:
“Siapa yang bisa membuat suasana menyenangkan tanpa menyakiti orang lain?”
Bukan:
“Kalau teman takut, berarti lucu.”
Tetapi:
“Kalau teman takut, berarti kita harus berhenti.”
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, berteman, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Tidak boleh ada siswa yang merasa takut karena tubuhnya dijadikan bahan candaan atau diperlakukan tanpa penghormatan.
Lima Hal yang Perlu Diingat
Pertama, tubuh adalah amanah.
Jagalah tubuh kita dan hormati tubuh orang lain.
Kedua, rasa penasaran itu wajar.
Salurkan rasa ingin tahu melalui sumber yang tepat, bukan dengan menyentuh tubuh orang lain.
Ketiga, tidak semua yang disebut “bercanda” itu boleh.
Prank dan candaan tidak boleh menjadi alasan untuk mempermalukan atau menyentuh bagian pribadi seseorang.
Keempat, tangan seorang Muslim harus membuat orang lain aman.
Jangan gunakan tangan untuk menyakiti, mempermalukan, atau mengganggu orang lain.
Kelima, jangan diam ketika sesuatu sudah melewati batas.
Jika melihat atau mengalami kejadian yang tidak pantas, carilah bantuan dari orang dewasa yang dapat dipercaya.
Mari kita simpan baik-baik beberapa kalimat sederhana ini:
“Bercanda boleh, tetapi kehormatan teman bukan bahan bercanda.”
“Penasaran boleh, melanggar privasi tidak boleh.”
“Berani bukan berarti bebas menyentuh orang lain. Berani berarti mampu mengendalikan diri.”
“Teman yang baik bukan yang membuat kita malu, tetapi yang membuat kita merasa aman.”
Dan yang paling penting:
Jagalah tanganmu. Jagalah pandanganmu. Jagalah kehormatanmu. Jagalah kehormatan temanmu.
Itulah bagian dari akhlak seorang Muslim.
Disampaikan pada Apel di Kampus Kedu 24 Agustus 2026
oleh Agustin T. A., S.Pd.