Generasi Alpha adalah anak-anak yang tumbuh bersama teknologi sejak usia sangat dini. Mereka akrab dengan layar sentuh, video singkat, permainan daring, mesin pencari, dan kecerdasan artifisial. Bagi mereka, dunia digital bukan sesuatu yang baru; ia sudah menjadi bagian dari ruang bermain, ruang belajar, bahkan ruang pergaulan. Kondisi ini membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Di satu sisi, Generasi Alpha memiliki akses informasi yang luas. Mereka dapat belajar bahasa asing, melihat eksperimen sains, mengikuti kelas daring, dan menemukan inspirasi karya dari berbagai belahan dunia. Di sisi lain, mereka juga berhadapan dengan distraksi, banjir informasi, konten yang belum tentu layak, budaya instan, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu, pendidikan karakter menjadi semakin penting.

Tarbiyah Islami menawarkan fondasi yang kokoh. Tarbiyah bukan hanya mengajarkan anak agar mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi membimbing mereka agar mencintai kebaikan, terbiasa melakukannya, dan mampu menahan diri dari hal yang merusak. Dalam tarbiyah, karakter tidak dibangun dengan ceramah semata, tetapi melalui keteladanan, pembiasaan, nasihat yang menyentuh hati, lingkungan yang mendukung, serta evaluasi yang berkelanjutan.

Bagi Generasi Alpha, pendekatan tarbiyah perlu dilakukan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Ketika membahas kejujuran, misalnya, guru dapat mengaitkannya dengan plagiarisme, menyontek melalui internet, atau penggunaan AI tanpa tanggung jawab. Ketika membahas tabayyun, guru dapat mengajak murid memeriksa kebenaran berita sebelum membagikannya. Ketika membahas adab, guru dapat menghubungkannya dengan komentar di media sosial, etika grup percakapan, dan cara merespons perbedaan pendapat.

Islam memberi panduan yang sangat relevan. Allah Swt. memerintahkan orang beriman untuk meneliti kebenaran berita agar tidak menimbulkan penyesalan (QS. Al-Hujurat: 6). Ayat ini menjadi landasan kuat literasi digital. Dalam dunia yang penuh unggahan, potongan video, dan opini cepat, murid perlu dilatih untuk tidak mudah percaya, tidak tergesa membagikan, dan tidak menjadikan media sosial sebagai tempat melukai orang lain.

SMPIT Cahaya Insani Temanggung membina karakter Generasi Alpha melalui ekosistem yang terpadu. Di kelas, guru mengembangkan pembelajaran aktif dan bermakna. Di pondok, santri belajar disiplin dan mandiri. Dalam kegiatan kesiswaan, murid belajar memimpin dan bekerja sama. Dalam ekstrakurikuler, bakat mereka diarahkan. Dalam program ibadah dan tahfiz, hati mereka didekatkan kepada Al-Qur’an.

Sebagai contoh, ketika murid mengikuti proyek lingkungan, mereka tidak hanya diminta membuat poster atau menanam tanaman. Mereka diajak memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah. Ketika murid mengikuti organisasi, mereka tidak hanya belajar membuat acara, tetapi juga belajar amanah, musyawarah, dan tanggung jawab. Ketika murid menggunakan teknologi, mereka dibimbing agar teknologi menjadi alat belajar dan berkarya, bukan sumber kelalaian.

Pendidikan Generasi Alpha membutuhkan kerja sama erat antara sekolah dan orang tua. Anak yang di sekolah dibiasakan salat tepat waktu akan lebih kuat jika di rumah mendapat teladan yang sama. Anak yang di sekolah diajarkan adab digital akan lebih mudah menerapkannya jika orang tua juga bijak menggunakan gawai. Anak yang dibimbing mencintai Al-Qur’an akan lebih kuat jika rumah memberi ruang untuk murajaah dan tilawah.

Membina Generasi Alpha bukan berarti menjauhkan mereka dari zaman. Yang dibutuhkan adalah membekali mereka dengan iman, adab, ilmu, dan keterampilan agar mampu hidup di zamannya tanpa kehilangan jati diri. Inilah ikhtiar SMPIT Cahaya Insani Temanggung: mendidik murid agar cakap menghadapi masa depan, tetapi tetap berakar pada nilai Qur’ani.